Showing posts with label Personal Experience. Show all posts
Showing posts with label Personal Experience. Show all posts

Kau Yang Berasal Dari Gunung

Matahari mulai beranjak dari ufuk timur, kala itu juga kesibukan mulai terlihat disebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Bongkok. Para petani mulai bergegas pergi ke sawah, para pengangkut kayu baru saja menyelesaikan segelas kopinya untuk segera pergi ke hutan tempat mereka bekerja. Pekerjaaan mereka adalah membawa bongkahan kayu-kayu besar dari lereng-lereng gungung hingga ke tepi jalan. Kadang dibeberapa lereng terjal, mereka tidak memikul bongkahan-bongkahan kayu itu tapi mreka menggelontorkannya melalui tebing-tebing terjal. Pekerjaan ini rupanya sangat berat, hal itu kulihat dari urat-urat besar yang mengelilingi otot mereka. 

Dijalan, terlihat beberapa anak berbaju merah putih yang bergegas berangkat menuju sekolah. Diantara mereka adalah aku bersama temanku Yanto, Acip, Amsori dan Kusnadi. Kami sering berangkat bersama. SD kami bernama SD Sindanglaya 3, tepatnya ada di Kp. Pasir Eurih Desa Sindanglaya Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak Provinsi Banten. 

Di sini aku adalah anak baru, setelah sebelumnya dari kelas 1 sampai 5 aku habiskan di kampung halamanku di SD Muncang 3 Kp. Nanggung. Aku pindah ke sini karena ikut dengan Bapak yang kebetulan mendapat tugas mengajar disini. 

Disekolah teman-teman sangat ramah kepadaku, mereka sangat baik dan mau berteman denganku. Mereka-mereka ini berasal dari kampung-kampung sekitar seperti Hegarsari, Sigoyot dan beberapa kampung lain. 

Diantara mereka ada, ada satu gerombolan anak yang setiap hari berangkat bersamaan yang membuatku bertanya-tanya. Gerombolan itu berisikan anak-anak dari beberapa kelas. Mulai kelas 1 hingga kelas 4. Kemudian setelah kucari tahu siapa sebenarnya mereka, ternyata mereka adalah anak-anak yang berasal dari balik gunung yang terlihat dibelakang sekolah. 


Mereka berjumlah belasan orang dan dari kelas yang berbeda. Setiap hari mereka berangkat bersamaan dipimpin oleh seorang anak perempuan yang duduk dibangku kelas 4. Pakaian mereka sama dengan pakaian kami, namun kebanyakan pakaian mereka lusuh seperti tak disetrika. Dan banyak bekas getah-getah tumbuhan hutan menempel permanen dibaju mereka. Karena yang tertua diangggap bertanggungjawab, ketika yang tertua sakit, mereka semuapun tidak masuk sekolah. Ketika itu terjadi, gurupun sudah mengerti dengan keadaan itu. 

Aku sendiri merasa salut dengan perjuangan mereka. Mereka rela berjalan jauh melewati gunung dan bukit-bukit setiap harinya hanya untuk ikut belajar di sekolah. Setiap hari mereka melalui itu tanpa menghiraukan jalan licin, hujan besar bahkan bahayanga hewan buas. 

Semangat belajar yang membara seperti inilah yang membuatku yakin bahwa daerah ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin tangguh dimasa yang akan datang. Sejak saat itu akupun bertekad untuk belajar lebih giat agar suatu saat nanti aku bisa membantu mendekatkan pendidikan kepada anak-anak tangguh seperti mereka. 

PERSIB: Tim Sepakbola Kebanggaan Urang Sunda



Terlahir di tanah sunda dan dibesarkan pula di tanah sunda. Membuatku sangat mengerti dan merasakan setiap hal yang kamu lakukan. Budaya kami, cara hidup kami, bahasa kami hingga apa yang kami sukai. Untuk hal terakhir kami memilih sepakbola sebagai hal yang kami sukai sekaligus sarana untuk berkumpul dan bercengkrama. Untuk kami, sepakbola benar-benar menjadi hobi bagi kebanyakan orang.

Sejak zaman dulu ketika listrik belum sampai kampung kami (baru ada listrik tahun 2000) sepakbola selalu menjadi hiburan paling ditunggu-tunggu. Saat itu kami biasanya mendengarkan siaran langsung sepakbola dari radio. Biasanya kami berbondong-bondong di sosompang (teras) hanya untuk mendengarkan sang komentator menyampaikan jalannya pertandingan.

Untuk tim kesayangan kami tak perlu memilih lagi. Karena kami telah memiliki PERSIB, tim sepakbola kebanggan orang sunda dari ujung Tasikmalaya hingga Ujung Kulon. Meskipun sebetulnya kami memiliki tim-tim di setiap kabupaten, tapi mayoritas dari kami adalah pendukung setia PERSIB.

Beberapa bulan yang lalu, aku menyempatkan diri untuk datang ke Bandung. Melaksanakan rencana yang dari dulu belum pernah tercapai. Saat itu aku berangkat sendiri menuju Bandung dengan kereta langsung dari tempat tinggalku saat ini, yaitu Yogyakarta. Sesampainya di Bandung, aku langsung bertemu salah satu kawan yang juga pendukung PERSIB yang akan mengajaku pergi bersama ke stadion Si Jalak Harupat.

Alangkah terkejutnya aku, ketika sampai di stadion ternyata sudah penuh dengan para Bobotoh (Pendukung PERSIB). Padahal saat itu baru pukul 14.30 dan pertandingan baru akan dimulai pukul 19.00. Disana aku melihat bobotoh dari seluruh daerah tatar sunda. Loyalitas dan kecintaan ini sudah terjaga dari masa ke masa. Seperti layaknya aku yang menyukai tim ini karena lingkunganku dulu yang mayoritas merupakan pendukung PERSIB. Ditambah lagi dengan rasa kesamaan suku dan bahasa yang membuat kecintaan dan loyalitas ini akan bertahan sampai kapanpun.

Bekerja Di Kampus Sendiri

Tuntas sudah masa kuliahku di kampus ini. Perjuangan kuliah, pengalaman organisasi hingga tugas mengejar-ngejar dosen pembimbing skripsi akhirnya selesai kulalui. Euporia muncul dimana-mana, seakan telah sesesai segalanya. Tapi eits tunggu dulu, cita-citaku untuk kuliah S2 ke luar negeri masih akan terus kuperjuangkan.

Dalam masa perjuanagan itu, aku memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman. Karena jika aku pulang, aku meyakini bahwa sulitnya atat komunikasi dan transportasi akan menyulitkan perjuanganku ini. Oleh karena itu aku memutuskan untuk tetap tinggal dikota ini.

Meskipun tinggal di kota yang sama, tempat yang sama, kos yang sama, namun kehidupanku sekarang berbeda dengan ketika aku kuliah dulu. Sekarang bapak sudah tidak mengirimiku uang bulanan lagi karena aku harus mandiri harus bisa hidup dengan gelar sarjanaku ini. Akupun yakin dengan diriku bahwa jika aku tetap bergerak pasti Allah akan terus memberikan rejekinya padaku.

Sudah banyak sekali lamaran yang aku kirimkan ke prusahaan-perusahaan, kantor-kantor, bank, hotel, baik di kota ini ataupun dikota lainnya. Namun hasilnya? ya belum beruntung. Kebanyakan dari tempat yang aku lamar tidak mencantumkan jurusanku. Akupun sempat bingung harus kemana aku melamar.

Akhirnya pada suatu hari aku mendapat info tentang rekrutmen Staff di kampusku. Ternyata almamater tercintaku ini memiliki program Temporary Staff khusus untuk alumninya. Tanpa pikir panjang akupun langsung mendaftar program ini. Setelah mengikuti beberapa tahap seleksi, alhamdulilah akhirnya aku diterima sebagai staff dan ditempatkan di UPT Perpustakaan.

Disinilah sekarang aku berada, diperjalanan menuju cita cita. Semoga semuanya lancar tak ada noda, hingga keinginan bisa kuliah di luar sana bisa terlaksana.

Jadi Murid Baru

Pada tahun 2003, bapak mendapat tugas mengajar di SDN Sindanglaya 3, daerah Sobang. Tepatnya di Kampung Pasir Eurih desa Sindanglaya. Disana kami tinggal disebuah rumah sederhana yang atapnya masih berlapis injuk (Pelepah nira) hasil swadaya masyarakat. Kehidupan di kampung itu sangatlah damai ditambah lagi dengan suasana alam yang sangat sejuk dan asri. Setiap pagi burung-burung dan hewan peliharaan bersorak membangunkan kehidupan dan di sore hari belalang-belalang bernyanyi ditengah kabut sore yang putih mempesona.

Knock-out di UNTIRTA

Lulus ujian nasional merupakan mimpi bagi setiap anak di Indonesia. Ujian nasional bagaikan tembok pemisah antara dunia sekolah dan dunia yang sebenarnya. Namun berkat kerja keras dan doa dari orang tua, guru, dan teman-teman sebaya akupun bisa menembus tembok itu.
Setelah lulus dari SMAN 1 MUNCANG, aku kemudian berfikir untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi namanya juga sekolah di desa aku belum tahu cara masuk perguruan tinggi itu bagaimana. Tak pernah terbesit dibenaku untuk masuk ke universitas besar seperti UI, UGM, ITB, IPB, dan kampus lainnya. Yang aku selalu mimpikan hanya masuk ke satu-satunya universitas kebanggaan provinsi banten yaitu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atau sering disebut UNTIRTA.

Emak Rapotku Basah...

Hari itu hari jumat, hatiku berdebar-debar ketika aku menunggu pembagian rapot disekolah. Jam 9 teng, walikelas masuk kedalam ruangan membawa setumpuk rapot kami. Segera dengan antusias kami duduk sikap siap sempurna tak sabar melihat hasil rapot kami. Gurupun mulai mengumumkan sepuluh peringkat teratas. Sembilan nama telah tersebut namun namaku tak kunjung keluar juga. Ketika guru membacakan peringkat pertama semua orang menatapku, dan benar ternyata aku menjadi juara pertama saat itu.

Kampung Nanggung Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak Provinsi Banten, butuh JALAN SEGERA !!!

Jalan merupakan salah satu bentuk pemerataan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Ketika daerah lain mulai bersaing mensejahterakan masyarakatnya dengan program-program kesejahteraan, kami warga Kampung Nanggung masih saja belum beranjak dari masalah yang jalan. Dari dulu sampai sekarang kami selalu dianaktirikan. Pembangunan yang selalu kami tunggu-tunggu tak kunjung datang juga. Entah karena apa kampung ini selalu diterlantarkan. Padahal dikecamatan lain,

Sekolah Anti Hujan-Badai "SD Girijagabaya 1"


SD Girijagabaya 1 merupakan sekolah tua yang terletak di Kampung Nanggung Ds. Girijagabaya Kec. Muncang, Lebak Banten. Nama Girijagabaya sendiri diambil dari nama desa pemekaran kami, dan nama ini baru beberapa tahun saja disandang. Masyarakat sekitar sering menyebutnya "IMPRES" kerena bangunan sekolah ini dibuat sejak zaman orde baru. Dengan perkembangannya sekolah ini telah berganti nama beberapa kali dari SD Muncang 5 kemudian SD Muncang 3 hingga sekarang ini. Letak dari sekolah ini berada persis ditengah-tengah hutan karet.

Sepakbola Sebagai Pemersatu Warga Desa Terhambat oleh Perkebunan Negara yang tidak Memiliki Program CSR

Animo dan budaya mudik hanya terdapat di Indonesia, negara kita tercinta ibu pertiwi. Biasanya orang orang berduyun-duyun pulang ke kampung halaman masing-masing diseluruh pelosok negeri yang indah ini. Begitu pula untuk masyarakat kampung Nanggung. Masyarakat yang bekerja atau yang sekolah diluar daerah pasti menyempatkan diri untuk mudik ke kampung halaman tentunya disaat lebaran tiba.
Hal itu biasanya dimanfaatkan oleh warga sebagai ajang untuk silaturahmi bersama keluarga, sanak, atau teman. Ajang bercengkrama tahunan yang sungguh indah yang setiap orang kampung selalu dambakan. Bayangkan, lebih dari 700 jiwa memenuhi kampung Nanggung, kampung yang letaknya disebuah lembah ini. Ramai memang ramai dan keramaian seperti ini tidak akan ditemukan dihari-hari biasa.

Mungkin sudah menjadi budaya dan mendarah daging untuk warga menjadikan sepak bola sebagai hobi bersama. Setiap harinya setelah ashar semua orang laki-laki baik muda atau tua berbondong-bondong ke lapangan hanya untuk bermain atau bahkan hanya menonton pertandingan saja. Sepak bola merupakan jati diri kampung Nanggung. Banyak sekali anak-anak berbakat dari kampung ini yang sekarang bakatnya hanya terbengkalai. Alasannya? 

Yang petama jelas tidak ada pembinaan yang kedua kami tidak meiliki lapangan sepakbola yang sebenarnya sepak bola. Saat ini kami memang memiliki lapangan sepakbola, namun letak lapangan kami berada di antara sungai ciminyak, sungai yang menjadi sumber kehidupan kami. Lapangan sepakbola kami adalah tanah tak bertuan karena lapangan itu terbentuk dari sisa-sisa pasir yang hanyut terbawa sungai. Hal inilah yang membuat kami bermimpi suatu saat nanti kami bisa memiliki lapangan sendiri. 
Sekedar informasi kampung kami bersebelahan persis dengan perkebunan kelapa sawit negara. Kalo tidak salah PTPN VIII. Beberapa kali warga mencoba mengajukan permohonan untuk meminta lahan untuk pembuatan lapangan. Namun hasilnya selalu nihil dan tak ada jawaban. Teakhir pada tahun 2012 yang lalu kami mencoba meminta kembali dan sama saja dengan tahun-tahun yang lalu hasilnya tetap nihil. Sebenarnya kami ingin bertanya setelah berpuluh atau beratus tahun perkebunan ini berdiri tidak pernah rasanya mereka memberi manfaat kepada warga. Padahal diundang-undang sendiri sudah dituliskan bahwa setiap perusahan harus memiliki program CSR-nya sendiri. Apakah hanya karena perkebunan ini milik pemerintah? sehingga mereka tidak wajib melakukan CSRnya? saya pikir tidak. Pertamina juga banyak kegiatan CSR-nya.  Saya kira ini bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai kaum awam. Bahwa setiap badan usaha baik besar maupun kecil berkewajiban memperhatikan lingkungannya atau setidaknya memberikan manfaatnya bagi masyarakat. Dan saya kira hanya memberikan 100 meter persegi untuk program CSR PTPN VIII untuk warga nanggung bukanlah sebuah masalah. 

Setiap sehari setelah lebaran bisanya warga desa dikoordinatori oleh pemuda membuat sebuah kompetisi sepakbola antar RT atau persahabatan antar desa. Kami mebuat sistem kompetisi layaknya di TV. Menggunakan wasit, hakim garis dan peraturannyapun sudah sesuai PSSI. Cuma bedanya ini "tarkam" bukan kompetisi seperti yang profesional. Setiap klub juara akan mendapat hadiah dan hadiahnya merupakan swadaya masyarakat sendiri. Kami tidak pernah meminta kepada pemerintah! Seusai melaksanakan kompetisi biasanya kami meramah-tamah keudian makan bersama warga desa. Hal inilah yang setiap tahunnya membuat kami selalu rindu akan kampung ini. 

Mungkin hal ini adalah segelintir kecil cerita dari kampung yang tak pernah merasakan pembangunan. Tapi kami selalu optimis dan kami akan terus berjuang untuk memajukan kampung yang selalu "ngangenin" ini. Jaya terus Nanggung, digaris terdepan kami siap untuk maju.





Bumi Pertiwi yang Sebenarnya "NANGGUNG"

Tepatnya pada hari senin tanggal 22 februari tahun 1993 aku terlahir kedunia ini. Disambut oleh rindangnya pepohonan dan kicauan burung emprit sebrang yang bertengger dipohon  mangga belakang rumah neneku. Tanah yang subur, sungai yang mengalir dan tak ada bising kendaraan. Masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai petani sawah dan ladang dan ada juga sebagian dari mereka menjadi kuli bangunan atau buruh karet. Situasi pemukiman sangatlah rukun walaupun disini tidak ada kepala suku atau sejenisnya. Masyarakat hanya patuh kepada Kiyai atau tokoh agama yang ada dikampung kami.

Nanggung adalah nama kampungku. Terletak sekitar 50 Km dari ibukota kabupaten yang kami cintai yaitu kabupaten lebak. Dulunya kami masih bergabung dengan provinsi Jawa Barat namun sekarang kami telah memiliki provinsi sendiri yaitu Banten. Secara geografis nanggung berada lembah yang dikelilingi banyak bukit dan gunung-gunung kecil yang membuat kami selalu subur dengan air. Nanggung secara pemerintahan berada dibawah naungan desa Girijagabaya dan juga berada diwilayah Kecamatan Muncang. Jarak dari kecamatan ke nanggung mungkin sekitar 10 Km jika terlihat dari udara.

Berbicara mengenai pendidikan, sejak zaman dahulu nanggung terkenal dengan masyarakat yang sadar akan pendidikan. Sebagai bukti ada beberapa putra asli nanggung berhasil sukses didaerah lain. Namun itulah yang menjadi bumerang bagi nanggung. Kebanyakan putra daerah yang ingin membuat perubahan selalu mendapat tantangan yang berat dari masyarakat nanggung sendiri. Kadang kala masyarakat tidak dapat menerima perubahan-perubahan yang anak-anak mereka bawa dari bangku sekolah. Hal ini menyebabkan putra-putri yang telah memiliki ilmu pengetahuan lebih memilih untuk mencari daerah lain atau berpindah domisili untuk mengembangkan ilmunya.

Sejak zaman empu tantular atau bahkan prabu Siliwangi, kampung ini belum pernah mendapat perhatian dari pemerintah. Jalan yang tak pernah mencium bau aspal, jaringan komunikasi yang tidak ada, menyebabkan kampung ini menjadi kampung yang sangat terisolasi. Haanya jalanan tanah dan batuan putih yang dengan sendirinya terbentuk karena langkah masyarakat yang berkebun dan langkah binatang yang lewat yang membentuk jalanan kami terlihat seperti jalan. Untuk pergi ke kota, kami hanya memiliki satu mobil. Dikampung kami mobil tersebut dinamakan mobil "PS" hanya mobil itulah yang setiap harinya mengangkut warga yang akan kekota atau pemilik warung yang ingin berbelanja memenuhi warungnya. Mobil inipun sangat spesial karena hanya berangkat sekali dalam sehari yaitu berangkat jam 7 pagi dari desa dan pulang sekitar jam 3 sore.

Untuk jaringan komunikasi sendiri, kami sangat sulit. Tidak adanya jaringan yang masuk kampung membuat kami jauh akan informasi. Jika warga ingin menelpon atau mengirim pesan kepada sanak saudara mereka mungin harus memanjat kelapa atau naik keatas bukit terlebih dahulu karena hanya disanalan mereka bisa mendapatkan jaringan itu. Jangankan jaringan untuk telekomunikasi jaringan TV saja sulit. Hal itu terbukti dari tiang-tiang antena yang dimiliki warga yang menjulang kelangit.

Rasanya tak ada habisnya jika berbicara mengenai kampung ini. Namun aapapun itu, Nanggung akan tetap menjadi bumi pertiwiku yang sebenarnya. Bumi yang telah menerima aku didunia ini. Bumi yang telah memberikan airnya untuk menghidupiku. Bumi yang menyaksikanku tumbuh berkembang hingga dewasa ini. Dan aku, kami warga nanggung akan selalu berusaha dan tetap percaya jika suatu hari nanti kampung kami akan maju sembada kesejahteraan, komunikasi dan transportasi, pendidikan dan tetap mejaga sisi religius kampung ini.

Abas & Asep "Dua Saudara, Dua Gembala, Dua Sahabat"













Dalam foto ini ada dua anak laki-laki yang berpelukan. Aku dengan peci kesayanganku dan baju Dewa 19 yang dibelikan Emak ketika aku duduk dibangku kelas 4 SD. Sebelahku adalah Asep, anak kecil yang senang bermain bola dengan topinya yang tak pernah lepas. Dan tiga anak perempuan yang ada difoto ini adalah ketiga teman baiku mereka adalah Deti, Duun dan Ipit. Sekarang kami semua sudah dewasa mungkin tinggal aku dan asep saja yang belum menikah. Haha alangkah indahnya sebuah persahabatan jika kita mengingatnya lagi
.

Mana Kambing Saya?

Hari itu hari yang sangat cerah. Saat mentari mulai berlalu dari kepalaku lonceng sekolahpun berbunyi. "Teng teng teng" dengan segera aku pulang kerumah. Setelah solat dan makan akupun siap untuk bertamasya. Haha, mungkin dalam pikiran kalian tamasya itu jalan-jalan kekota atau berlibur ke mall. Tapi buat aku tamasya itu adalah saat dimana aku bermain dengan kambing-kambingku. Dengan segera aku mengeluarkan mereka dari kandang dan menggiring mereka menuju bukit. Disana, teman-temanku sudah menungguku dengan kambingnya masing-masing dan kamipun bersama-sama menjadi bocah gembala.

Ketika para kambing sedang berebut lumput-rumput liar yang ada dilereng-lereng bukit, kami melihat ada segerombol kerbau menghampiri kami. Seorang temanpun bergurau "hai teman-teman, kita naik kerbau yuk?" tanpa pikir panjang aku dan kedua temanku langsung "srep" berada dipunggung kerbau kami masing-masing. Menikmati alam pegunungan yang masih asri ditambah lagi angin sepoy-sepoy yang terasa seperti kain lembut yang diusap-usap ditelinga mebuat kami tertawa terbahak-bahak. Bukit demi bukit kami laluin dan hektaran sawah terasering telah kami lewati membuat kami lupa akan tugas kami yang sesungguhnya yaitu menggembala.

Selelah puas menunggangi kerbau kamipun kembali ke bukit dimana kambing-kambing kami tinggalkan. Alangkah terkejutnya aku, ketika kulihat dikerumunan dua kambingku tidak ada. Aku langsung minta bantuan kepada teman-temanku. Seluruh bukit telah kami telusuri, namun hasilnya nihil. Kambingku tak bisa kami temukan. Hingga hari mulai sore kabingku belum juga kami temukan. Akhirnya aku memutuskan untuk kebali ke desa. Aku sangat takut dimarahi Bapak karena aku telah menghilangkan kambingnya.

Sesampainya dirumah, aku langsung jujur pada emak bahwa kambing yang aku gembala hilang. Akupun telah menceritakan kronologis kejadiannya. Bapak dan emak terkejut dan sangat bingung, kemudian mereka mencoba menasihatiku "Dengarkan nak, kalau punya tugas itu hendaknya dilakukan sebaik-baiknya, jika ada yang harus kamu jaga, maka dijaga itu jangan sampai kamu meninggalkannya supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi". Sambil menangis aku mengangguk-angguk.

Ketika malam mulai datang aku pergi ke mesjid untuk shalat magrib. Selepas shalat aku masih teringat akan nasib kedua kambingku. Aku takut kalau mereka dimakan binatang buas dihutan atau diambil oleh perampok hewan seperti yang terjadi didesa sebelah. Malam itu sekitar pukul tujuh malam, aku masih termenung dirumah tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba dari kejauhan terdengan sebuah suara orang paruh baya memanggil-manggil namaku "Abbaaaaaassss, bassss, bassss" akupun seketika keluar dan segera membuka pintu. Ketuka kubuka pintu, aku terkejut ternyata itu adalah suara Budeku dan lebih terkejutnya lagi aku melihat bude menggiring dua kambingku yang hilang. "Alhamdulilah" segera aku berterimakasih kepada bude dan memasukan kambing-kambing kedalam kandang. Ternyata bude bilang kambingku ia temukan di pinggiran sungai diujung desa mungkin mereka lupa jalan pulang. Ah, ini merupakan sebuah pelajaran bagiku dan sebuah pengalaman hidup yang tak akan aku lupakan.

Kenalan dulu ah.... !!!

Hallo, Semuanya perkenalkan namaku Muhamad Abas, aku dulunya seorang gembala. Dulu aku punya tiga kambing dan satu ekor ayam jantan aku sangat sayang mereka. Kambing-kambingku tidak ada namaya loh, tapi kalo ayamku amanya si Jago. Di blog ini aku ingin berbagi tentang cerita-cerita kehidupan yang indah yang pernah aku lalui. Pantengin terus yah.

Kau Yang Berasal Dari Gunung

Matahari mulai beranjak dari ufuk timur, kala itu juga kesibukan mulai terlihat disebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Bongkok. Pa...